Pentingnya Mental Health di masa sekarang terutama bagi Generasi Z
Assalamu’alaikum wr. wb.
Halo pembaca, selamat datang di
blog saya. Sebelumnya mohon maaf jika ada salah kata, penulisan, atau apapun
terkait dengan tulisan saya ini karena saya baru pertama kali menulis di blog.
Kali ini saya akan membahas mengenai mental health. Mental health atau
dapat diartikan sebagai kesehatan mental menurut WHO merupakan kondisi dari
kesejahteraan yang disadari individu, yang didalamnya terdapat kemampuan –
kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara
produktif dan menghasilkan, serta berperan di komunitasnya. Jika seseorang
berada di luar definisi tersebut bisa diartikan mempunyai kemungkinan gangguan
mental. Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres,
berhubungan dengan orang lain, membuat pilihan, dan memicu hasrat untuk
menyakiti diri sendiri. Gangguan mental dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
yaitu faktor biologis dan psikologis. Faktor biologis contohnya gangguan sel
saraf, kelainan bawaan, turunan dari orang tua penderita gangguan mental,
kerusakan otak, dan lainnya. Faktor psikologis contohnya peristiwa traumatik,
perlakuan lingkungan terhadap dirinya, kurang mampu bergaul dengan orang lain.
Seperti yang kita ketahui, kesehatan tidak hanya
mencakup dari segi fisik saja, melainkan juga kesehatan mental. Namun sering
orang orang menganggap remeh gangguan pada mental. Jika dibiarkan akan
menimbulkan hal yang buruk. Generasi Z dilaporkan lebih rentan terkena gangguan
mental. Generasi Z disini adalah orang – orang yang lahir antara tahun 1998
sampai 2010. Pada tahun 2020, generasi Z diperkirakan rata – rata berumur 12 –
22 tahun.
Sebuah
laporan yang dirilis oleh American Psychological Association menemukan jumlah
remaja yang melaporkan gejala-gejala depresi berat meningkat 52 persen antara tahun
2005 dan 2017 - dari 8,7 persen menjadi 13,2 persen - di kalangan remaja
berusia antara 12 dan 17. Peningkatan ini bahkan lebih tinggi - 63 persen dari
2009 hingga 2017 - di antara orang dewasa muda berusia antara 18 dan 25. Survei
mencermati data dari 611.880 responden usia remaja dan dewasa. Para peneliti
tidak menemukan peningkatan serupa pada orang dewasa yang berusia lebih dari 26
tahun. Saat ini, satu di antara tiga remaja berusia antara 13 hingga 18 tahun,
memiliki gangguan kecemasan.
Upaya yang bisa diterapkan untuk menghindari resiko
gangguan mental diantaranya :
- Tetap berpartisipasi aktif dalam pergaulan dan aktivitas yang disenangi.
- Berbagilah
dengan teman dan keluarga saat menghadapi masalah.
- Lakukan
olahraga rutin, makan teratur, dan kelola stres dengan baik.
- Tidur dan
bangun tidur teratur pada waktu yang sama setiap harinya.
- Jangan
merokok dan menggunakan NAPZA.
- Batasi
konsumsi minuman beralkohol dan minuman berkafein.
- Konsumsi
obat-obatan yang diresepkan dokter, sesuai dosis dan aturan pakai.
- Segera ke
dokter bila muncul gejala gangguan mental.
Gejala gangguan mental tergantung
dengan jenis gangguan yang dialami. Berikut contoh gejala gangguan mental
diantaranya :
- Waham
atau delusi, yaitu meyakini sesuatu yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan
fakta yang sebenarnya.
- Halusinasi, yaitu sensasi ketika seseorang melihat,
mendengar, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata.
- Suasana hati
yang berubah-ubah dalam periode-periode tertentu.
- Perasaan sedih yang berlangsung hingga
berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
- Perasaan cemas dan takut yang berlebihan dan terus
menerus, sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Gangguan makan misalnya merasa takut berat badan
bertambah, cenderung memuntahkan makanan, atau makan dalam jumlah banyak.
- Perubahan
pada pola tidur, seperti mudah mengantuk dan tertidur, sulit tidur, serta
gangguan pernapasan dan kaki gelisah saat tidur.
- Kecanduan nikotin dan alkohol, serta penyalahgunaan NAPZA.
- Marah
berlebihan sampai mengamuk dan melakukan tindak kekerasan.
- Perilaku yang
tidak wajar, seperti teriak-teriak tidak jelas, berbicara dan tertawa
sendiri, serta keluar rumah dalam kondisi telanjang.
Beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk
mengurangi resiko gangguan mentak adalah dengan mengubah gaya hidup kita.
Contohnya dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan, mengatur pola makan,
sempatkan untuk rutin berolahraga, mempperbaiki pola tidur, dan sebagainya. Selain
itu kita juga bisa melakukan kegiatan yang sesuai dengan hobi. Hal teersebut
agar dapat mengurangi tingkat stres kita. Kemudian satu lagi yang bisa
diterapkan oleh semua orang namun tidak semuanya mampu, yaitu menceritakan
masalah yang sedang dihadapi. Sebagian orang lebih suka menyimpan masalahnya
sendiri dan kadang tidak bisa dipecahkan. Masalah yang sulit atau tidak bisa
dipecahkan tersebut dapat memicu ganggian mental pada diri kita. Dengan
menceritakan masalah kita ke orang terdekat, pemikiran tentang masalah tersebut
menjadi lrbih ringan dan juga sekaligus bisa memecahkan masalah tersebut.
Kalaupun masalah gangguan mental tersebut masih berlanjut, disarankan untuk
berobat ke psikiater adat rumah sakit yang dapat menangani masalah gangguan
mental.
Gangguan kesehatan mental merupakan sesuatu
yang mungkin dirasakan oleh setiap orang dengan mereka sadari atau tidak.
Generasi Z ini patut dijadikan perhatian karena mereka masih mudah terpengaruh
dengan goyahan mental. Gangguan kesehatan mental ini perlu menjadi perhatian
karena gangguan ini bisa menjerumus ke kemungkinan terburuk yaitu kematian.
Banyak kasus kematian yang disebabkan oleh gangguan kesehatan mental. Oleh
karena itu, menjaga kesehatan mental menjadi sesuatu yang sangat penting dan
perlu diperhatikan.
Mungkin hanya ini yang bisa sampaikan, dan
mohon maaf sekali lagi jika ada kesalahan maupun kekurangan. Terima kasih telah
membaca tulisan saya. Tetap jaga kesehatan dan patuhi protokol kesehatan di era
pandemi ini.
Sekian,
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Referensi : Alodoc, VOA Indonesia
Komentar
Posting Komentar